Bisnis perhotelan dan restauran diperkirakan masih cerah ditahun 2011 atau berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai > 5%, apalagi kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mengalami peningkatan sebesar 16,49%.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restauran Indonesia menambahkan, bisnis hotel dan restaruran di Indonesia masih berpeluang meningkat. Kondisi ini dilihat dari adanya perjanjian kerjasama perdagangan bebas Indonesia dengan Malaysia pada 1 Januari 2011 kemarin sehingga menjadi peluang untuk menambah jumlah wisatawan yang datang di Indonesia.
“Untuk tingkat hunian hotel saja ditahun 2010 sudah naik 46,67%. Jadi pertumbuhan bisnis hotel masih bisa terus berkembang,” ujarnya. Dikatakannya, peluang bisnis perhotelan tersebut didasari juga dengan bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Untuk tipe jenis hotel yang masih memiliki prospek yakni hotel berbintang 3.
“Bisnis hotel bisa naik 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini bisa saja lebih bila pemerintah meningkatkan kualitas infrastruktur menuju berbagai lokasi tujuan tempat wisata,” ucapnya.
Perkembangan baik ini, lanjutnya juga harus diiringi dengan bertambah persediaan kamar dari berbegai tipe hotel di Indonesia. Dengan target wisatawan sebanyak 6,5 juta di Indonesia, diharapkan pemerintan dan pihak manajemen dapat memanfaatkan peluang tersebut. “Jumlah kamar masih kurang, ini mengakibatkan kunjungan wisman banyak dibatalkan khususnya pada perayaan-perayaan hari besar keagamaan dan nasional,” jelasnya.
Sementara untuk jumlah hotel yang ada di Indonesia, diakui Layari masih tergantung dari pihak investor dalam mengembangkan atau membuka pembangunan hotel baru. Karena investasi ini sangat membawa dampak positif bagi penambahan jumlah tenaga kerja dan peningkatan kualitas dari Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada selama ini.
“Kalau mau berinvestasi hotel berpeluang untuk tipe hotel bintang 3, 4 dan hotel bintang 5. Kita harap ada yang mau mengembangkan hotel baru di Indonesia sehingga pertumbuhan ekonomi di negara kita akan lebih meningkat lagi lebih dari tahun lalu,” tuturnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah wisman yang berkunjungke Indonesia pada Desember 2010 naik 16,49% dibandingkan pada bulan sebelumnya. Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) mengatakan, wisman yang datang ke Indonesia rata-rata berasal dari negara Malaysia, Jepang, Singapura, Belanda, Australia dan Amerika Serikat.
“Peningkatan jumlah Wisman ini disebabkan naiknya jumlah kedatangan wisman dari Singapura 44,83%, Malaysia 20,86%, Amerika Serika, Australia, Jeman, Jepang dan Korea Selatan,” katanya. Sedangkan untuk Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang pada Desember 2010 mengalami kenaikan 46,67 persen.
Berdasarkan klasifikasi hotel, tingkat hunian hotel bintang lima mencapai 54,67 persen dan merupakan TPK hotel tertinggi dibanding kelas hotel berbintang lainnya.
“TPK hotel terendah adalah hotel bintang satu yang hanya mencapai 38,62 persen,” imbuhnya. Menurutnya, bila dibandingkan pada November 2010, hotel bintang dua mengalami kenaikan TPK tertinggi yakni sebesar 5,57 persen, yang kemudian diikuti hotel bintang lima yang naik sebesar 2,03 poin. Untuk hotel bintang satu, empat, dan tiga justru mengalami penurunan masing-masing sebesar 7,19 poin, 3,36 poin dan 1,12 poin.
“Untuk rata-rata lama menginap tamu asing sebesar 1,92 hari dan lebih tinggi dibandingkan tamu domestik yakni 1,36 hari,” tuturnya.